iklan
Jom..lepak di sini!!!.....
Ahad, 20 Januari 2013
Fitnah bagai mana hadapinya?...
Fitnah Selalu Terjadi,
Fitnah merupakan komunikasi kepada satu orang atau lebih yang bertujuan untuk memberikan stigma negatif atas suatu peristiwa yang dilakukan oleh pihak lain berdasarkan atas fakta palsu yang dapat memengaruhi penghormatan, wibawa, atau reputasi seseorang. Kata “fitnah” diserap dari bahasa Arab, dan pengertian aslinya adalah “cobaan” atau “ujian”.
Hal terkait fitnah adalah pengumuman fakta yang bersifat pribadi kepada publik, yang muncul ketika seseorang mengungkapkan informasi yang bukan masalah umum, dan hal tersebut bersifat menyerang pribadi yang bersangkutan..
Berkaitan dengan hal itu, Allah berfirman:
أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)
”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS al-‘Ankabût, 29: 2-3)
Kehidupan dunia secara keseluruhan, baik dan buruknya adalah fitnah atau ujian bagi manusia. Fitnah yang senantiasa menyertai manusia dalam hidupnya sampai akhir hayatnya. Tetapi sangat disayangkan sebagian besar umat manusia tidak mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini fitnah. Sebagian yang lain mengetahui bahwa kehidupan di dunia ini fitnah tetapi kalah oleh dahsyatnya fitnah itu sendiri. Hanya sebagian kecil saja yang sadar bahwa kehidupan di dunia ini fitnah, kemudian mereka berhati-hati terhadap fitnah itu dan ketika lalai atau lupa kembali pada petunjuk Allah.
Bagi orang beriman yang memahami hakikat kehidupan dunia, tetap belum aman terhadap fitnah, karena syetan selalu mengawasi mereka dan menggodanya sehingga orang beriman itu, lalai, jatuh dan terkena fitnah dunia dengan segala macamnya. Begitu juga para da’i yang selalu mengajak manusia untuk beribadah pada Allah belum aman dari fitnah. Syetan memiliki seribu satu macam cara untuk memfitnah dan menggoda para da’i sehingga mereka jatuh dan meninggalkan gelanggang dakwah kemudian memilih kehidupan dan profesi lain yang lebih santai, aman dan jauh dari dinamika dakwah.
Dan begitu juga para pemimpin umat, muballigh, ustadz dan tokoh masyarakat belum aman dari fitnah. Fitnah akan menyerang siapa saja dari manusia selagi mereka hidup di dunia, ada yang berjatuhan terkena fitnah dan ada juga yang selamat dengan izin Allah. Di akhir zaman ini fitnah akan semakin dahsyat dan mengerikan. Rasulullah s.a.w. bersabda:
بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا
“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan ‘barang’ kenikmatan dunia.” (HR Muslim dari Abu Hurairah)
Rasulullah s.a.w. selalu mengajarkan kepada umatnya agar berlindung kepada Allah dari berbagai macam fitnah yang membahayakan manusia. Di antara doa Rasulullah s.a.w. untuk membentengi fitnah tersebut yaitu:
« إِذَا تَشَهَّدَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنْ أَرْبَعٍ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ جَهَنَّمَ وَمِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ وَمِنْ شَرِّ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ ».
“Jika kalian membaca tasyahhud, maka berlindunglah dari empat hal, yaitu berkata:”Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari azab Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian dan dari buruknya fitnah al-Masih ad-Dajjâl.”(HR Muslim dari Abu Hurairah)
Makna Fitnah
Ketika orang menyatakan: Fatana al-Ma’din, artinya logam itu dibakar untuk mengetahui kualitasnya, (QS al-‘Ankabût, 29: 2). Fatana Fulânan, artinya si Fulan itu disiksa agar berubah dari sikap atau pendiriannya, (QS QS al-Burûj, 85: 10).Fatanahul Mâl dan Fatanathul Mar’ah, artinya tergoda dengan harta dan wanita, (QS al-Anfâl, 8: 28). Fatana Fulânan ’an Syai’i, artinya melalaikan atau memalingkan dari sesuatu, (QS al-Mâidah, 5: 49). Iftatana bil Amri, artinya terkena fitnah dengan sesuatu seperti harta, wanita dan lainnya.
Jadi sesuai dengan ungkapan di atas, fitnah menurut para ahli bahasa bermakna ujian atau cobaan dalam berbagai macam bentuknya. Ada ujian yang buruk seperti siksaan, kesusahan, penderitaan, penyakit dan sebagainya. Ada ujian dalam bentuk kebaikan seperti harta, wanita, kedudukan, popularitas dan sebagainya. Fitnah juga bermakna kegagalan dari sebuah ujian dan berakibat pada keburukan, seperti syirik, kejahatan, kemungkaran, kerusakan, perselisihan, saling bunuh, dan sebagainya.
Gambaran Fitnah dalam al-Quran
Al-Quran banyak sekali mengungkapkan kata fitnah dengan berbagai macam maknanya. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam beberapa ayat, di antaranya:
الم (١) أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)
”Alif lâm mîm. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS al-‘Ankabût, 29: 1-3)
Manusia dalam menyikapi ajaran para nabi dan rasul ada dua sikap. Pertama, orang-orang yang mengimani ajarannya, merekalah orang-orang yang beriman. Dan kedua, orang orang-orang yang mengingkari ajarannya, mereka termasuk kelompok orang-orang kafir. Ketika manusia menyatakan keimanannya, maka mereka akan diuji untuk membuktikan bahwa pernyataan itu benar atau salah. Karena keimanan bukan hanya kata-kata yang diungkapkan, tetapi keimanan adalah hakikat yang mengandung resiko dan tanggungjawab, keseriusan yang membutuhkan ketabahan, jihad yang membutuhkan kesabaran. Oleh karena itu tidak cukup manusia menyatakan beriman sebelum mendapatkan ujian, cobaan dan tantangan.
Semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka semakin besar juga ujian dan cobaannya. Para nabi adalah orang yang paling besar ujian dan cobaannya kemudian yang sejenisnya dan seterusnya sesuai kadar keimanan seseorang.
Sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w., ketika menjawab pertanyaan para sahabatnya:
أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً ؟ قَالَ : الأَنْبِيَاءُ ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ ، يُبْتَلَى الْعَبْدُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ صُلْبًا ، اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ ، وَإِنْ كَانَ فِي دِينِهِ رِقَّةٌ ، ابْتُلِيَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ ، فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ ، حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِي عَلَى الأَرْضِ ، وَمَا عَلَيْهِ مِنْ خَطِيئَةٍ.
“Siapa manusia yang paling berat cobaannya?” Beliau menjawab; “Para Nabi, lalu orang-orang shaleh, kemudian orang yang paling mulia dan yang paling mulia dari manusia. Seseorang akan diuji sesuai dengan kadar agamanya, jika agamanya kuat maka akan ditambah ujiannya, dan jika agamanya lemah maka akan diringankan ujiannya. Tidaklah ujian itu berhenti pada seorang hamba sampai dia berjalan di muka bumi tanpa mempunyai dosa.” (HR Bukhari, Ahmad dan At-Tirmidzi Sa’ad bin Abi Waqqash).
Demikian orang-orang yang menyatakan beriman akan mendapatkan ujian dan cobaan di dunia, sedangkan orang kafir juga akan mendapatkan ujian dan cobaan. Orang beriman mendapatkan ujian awal di dunia berupa penderitaan, cobaan, ujian, kesusahan, fitnah dll untuk kemudian mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan akhir di akhirat. Sedangkan orang-orang kafir bersenang-senang dan berfoya-foya di awal hidupnya di dunia untuk kemudian mendapatkan ujian dan siksaan di akhirat. Jadi kedua golongan itu mendapatkan kesusahan, fitnah dan ujian, orang beriman di dunia dan orang kafir di akhirat.
Seseorang bertanya pada imam asy-Syafi’i, dan berkata:” Wahai Aba Abdillah, mana yang lebih utama bagi seorang lelaki, mendapatkan kedudukan atau mendapat ujian?” Berkata imam asy-Syafi’i:” Seseorang tidak mungkin akan mendapat kedudukan sehingga mendapat ujian. Karena sesungguhnya Allah telah menguji Nuh as, Ibrahim as, Musa as, Isa as, dan Muhammad saw. Ketika mereka sabar, maka Allah berikan kemuliaan kepada mereka. Maka jangan menyangka seorang beriman bebas dari ujian kesusahan.
Allah SWT berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
”Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS al-Baqarah, 2: 155)
Gambaran Fitnah Dalam Hadits
Hampir di setiap kitab hadits memuat bab tentang Fitnah. Imam Bukhari, at-Tirmidzi dan Ibnu Majah membuat judul dalam kitab haditsnya Kitabul Fitan, Abu Dawud dan Al-Hakim menyebutnya dengan judul Kitâb al-Fitan wa al-Malâhim(Bab Fitnah dan Huru-Hara), sedangkan imam Muslim menyebutnya Kitab al-Fitan wa ’Asyrât as-Sâ’ah (bab fitnah dan tanda-tanda hari kiamat).
Di antara hadits-hadits yang disebutkan dalam shahih Bukhari tentang fitnah dapat disebutkan:
Imam Bukhari mengawali hadits Fitnah dengan menyebut QS al-Anfâl, 8: 25, agar orang beriman hati-hati terhadap fitnah dan menjauhinya.
Fitnah semakin hari semakin berat dan semakin buruk.
Harta yang paling bersih di akhir zaman bagi muslim adalah domba yang digembalakan di hutan dekat gunung dan air hujan.
Di antara fitnah di akhir zaman, diangkatnya ilmu, dominannya kebodohan dan banyaknya pembunuhan.
Umat Islam harus bersabar pada pemimpin jamaah Islam walaupun benci asal tidak menyuruh kepada kemungkaran dan kekafiran.
Cara yang baik untuk selamat dari fitnah yaitu komitmen dengan jamaah Islam.
Di masa fitnah dilarang memegang senjata yang membahayakan umat Islam.
Tokoh sahabat yang paling menguasai masalah fitnah adalah Hudzaifah bin Al-Yaman. Beliau banyak bertanya tentang keburukan daripada kebaikan. Hal ini dilakukan agar orang-orang beriman terhindar dari fitnah dan keburukannya.
Redaksi lengkap hadits tersebut adalah:
كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الْخَيْرِ ، وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ ، مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي ، فَقُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ ، إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ ، فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ ، فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، قُلْتُ : وَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ ، قَالَ : نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ ، قُلْتُ : وَمَا دَخَنُهُ ؟ قَالَ : قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي ، تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ ، قُلْتُ : فَهَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ ؟ قَالَ : نَعَمْ ، دُعَاةٌ إِلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ ، مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا ، قُلْتُ : يَا رَسُولَ اللهِ صِفْهُمْ لَنَا ، فَقَالَ : هُمْ مِنْ جِلْدَتِنَا ، وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا ، قُلْتُ : فَمَا تَأْمُرُنِي إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ ؟ قَالَ : تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ ، قُلْتُ : فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلاَ إِمَامٌ ؟ قَالَ : فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا ، وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ بِأَصْلِ شَجَرَةٍ ، حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ.
“Manusia biasa bertanya pada Rasulullah s.a.w. tentang kebaikan, sedang aku bertanya kepada beliau tentang kejahatan, karena khawatir akan mengenaiku”. Saya berkata: “Wahai Rasulullah s.a.w. apakah kami dahulu di masa Jahiliyah dan penuh kejahatan, kemudian Allah mendatangkan dengan kebaikan ini (Islam). Apakah setelah kebaikan ini ada lagi keburukan”. Rasulullah s.a.w. menjawab:”Ya”. Apakah setelah keburukan itu ada kebaikan”. Rasulullah s.a.w. menjawab:”Ya, tetapi ada polusinya”. “Apa polusinya?” Rasulullah s.a.w. pun menjawab:” Kaum yang mengambil hidayah dengan hidayah yang bukan dariku, engkau kenali dan engkau ingkari”. Saya berkata:” Apakah setelah kebaikan itu ada keburukan?” Rasulullah s.a.w. pun menjawab:” Ya, para penyeru ke neraka jahanam, barangsiapa yang menyambut mereka ke neraka maka mereka melemparkannya ke dalam neraka”. Saya berkata:” Ya Rasulullah s.a.w., terangkan ciri mereka pada kami?” Rasulullah s.a.w. pun menjawab:” (kulit) mereka sama dengan kulit kita, berbicara sesuai bahasa kita”. Saya berkata:” Apa yang engkau perintahkan padaku jika aku menjumpai hal itu?” Rasulullah s.a.w. pun bersabda:” Komitmen dengan jamaah muslimin dan imamnya”. Saya berkata:” Jika tidak ada pada mereka jamaah dan imam?” Rasulullah s.a.w. pun menjawab:” tinggalkan semua firqah itu, walaupun engkau harus menggigit akar pohon sampai menjumpai kematian dan engkau tetap dalam kondisi tersebut” (HR Bukhari dan Muslim dari Hudzaifah bin al-Yaman))
Hadits lain yang berbicara tentang fitnah yang diriwayatkan Hudzaifah adalah, saat itu kami bersama Umar bin Khathab, beliau berkata:
كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ قَالَ حُذَيْفَةُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ قَالَ عُمَرُ أَكَسْرًا لَا أَبَا لَكَ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ قُلْتُ لَا بَلْ يُكْسَرُ وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ يُقْتَلُ أَوْ يَمُوتُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ قَالَ أَبُو خَالِدٍ فَقُلْتُ لِسَعْدٍ يَا أَبَا مَالِكٍ مَا أَسْوَدُ مُرْبَادًّا قَالَ شِدَّةُ الْبَيَاضِ فِي سَوَادٍ قَالَ قُلْتُ فَمَا الْكُوزُ مُجَخِّيًا قَالَ مَنْكُوسًا و حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ الْفَزَارِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو مَالِكٍ الْأَشْجَعِيُّ عَنْ رِبْعِيٍّ قَالَ لَمَّا قَدِمَ حُذَيْفَةُ مِنْ عِنْدِ عُمَرَ جَلَسَ فَحَدَّثَنَا فَقَالَ إِنَّ أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ أَمْسِ لَمَّا جَلَسْتُ إِلَيْهِ سَأَلَ أَصْحَابَهُ أَيُّكُمْ يَحْفَظُ قَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتَنِ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي خَالِدٍ وَلَمْ يَذْكُرْ تَفْسِيرَ أَبِي مَالِكٍ لِقَوْلِهِ مُرْبَادًّا مُجَخِّيًا و حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَعَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ وَعُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ الْعَمِّيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ سُلَيْمَانَ التَّيْمِيِّ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ حُذَيْفَةَ أَنَّ عُمَرَ قَالَ مَنْ يُحَدِّثُنَا أَوْ قَالَ أَيُّكُمْ يُحَدِّثُنَا وَفِيهِمْ حُذَيْفَةُ مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْفِتْنَةِ قَالَ حُذَيْفَةُ أَنَا وَسَاقَ الْحَدِيثَ كَنَحْوِ حَدِيثِ أَبِي مَالِكٍ عَنْ رِبْعِيٍّ وَقَالَ فِي الْحَدِيثِ قَالَ حُذَيْفَةُ حَدَّثْتُهُ حَدِيثًا لَيْسَ بِالْأَغَالِيطِ وَقَالَ يَعْنِي أَنَّهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Umar pernah bertanya kepadaku ketika aku bersamanya, ‘siapakah di antara kamu yang pernah mendengar Rasulullah s.a.w. meriwayatkan tentang fitnah (ujian)?’ Para sahabat menjawab, ‘Kami pernah mendengarnya! ‘Umar bertanya, ‘Apakah kamu bermaksud fitnah seorang lelaki bersama keluarga dan tetangganya? ‘ Mereka menjawab, ‘Ya, benar.’ Umar lalu berkata, ‘Fitnah tersebut bisa dihapuskan oleh shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, siapakah di antara kamu yang pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang fitnah yang bergelombang sebagaimana gelombangnya lautan? ‘ Hudzaifah berkata, ‘Para Sahabat terdiam.’ Kemudian Hudzaifah berkata, ‘Aku, wahai Umar! ‘ Umar berkata, ‘Kamu! Ayahmu sebagai tebusan bagi Allah.’ Hudzaifah berkata, “Aku mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Fitnah akan dipaparkan pada hati manusia bagai tikar yang dipaparkan perutas (secara tegak menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga hati tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya.” Hudzaifah berkata, “Dan aku menceritakannya bahwa antara kamu dan fitnah tersebut ada pintu penghalang yang tertutup yang hampir pecah.” Umar berkata, “Apakah telah dibelah dengan suatu belahan, kamu tidak memiliki bapak (maksudnya kamu perlu bekerja keras), sekiranya benar pasti akan dikembalikan lagi (tertutup).” Aku berkata, “Tidak, bahkan dibelah.” Dan aku menceritakan bahwa pintu itu adalah seorang laki-laki yang dibunuh atau meninggal (maksudnya pintu fitnah dibuka setelah meninggalnya Umar, ed.), aku menceritakan sebuah hadits bukan dari (mengutip) kitab yang tebal (perjanjian baru dan lama).” Abu Khalid berkata, aku berkata kepada Sa’ad, “Wahai Abu Malik, “Apa maksud hitam keabu-abuan?” Sa’ad menjawab, “Maksudnya sangat putih dalam hitam.” Dia berkata, “Aku berkata, ‘Maka maksud al-Kuz Mujakhkhiya’. Dia menjawab, ‘Maksudnya bengkok’.” Dan telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Marwan al-Fazari telah menceritakan kepada kami Abu Malik al-Asyja’i dari Rib’i dia berkata, ketika Hudzaifah datang dari sisi Umar, ia kemudian duduk seraya menceritakan kepada kami, “Sungguh, saat aku duduk di sisinya, Amirul Mukminin bertanya kepada para sahabatnya, ‘Siapakah di antara kalian yang menghafal sabda Rasulullah tentang fitnah? Lalu dia membawakan hadits dengan semisal hadits Abu Khalid, dan tidak menyebutkan tafsir Abu Malik tentang makna murbad mujakhkhiya.” Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Amru bin Ali serta ‘Uqbah bin Mukram al-Ammi mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Adi dari Sulaiman at-Taimi dari Nu’aim bin Abu Hind dari Rib’i bin Hirasy dari Hudzaifah bahwa Umar berkata, “Siapa yang bisa menceritakan kepada kami, atau siapakah di antara kalian yang bisa menceritakan kepada kami -Sedangkan di antara mereka ada Hudzaifah- tentang yang disabdakan Rasulullah s.a.w. dalam fitnah?’ Hudzaifah menjawab, ‘Saya bisa.’ Lalu dia membawakan hadits seperti hadits Abu Malik dari Rib’i.” Perawi berkata, “Kemudian ia menyebutkan dalam haditnya, ‘Hudzaifah berkata, ‘Aku telah menceritakan sebuah hadits bukan dari nukilan kitab tebal, dan dia berkata, yaitu dari Rasulullah s.a.w..” (HR Bukhari dan Muslim)
Fitnah anak, isteri, tetangga dan lain-lain berupa mencintai mereka secara berlebihan, kurang ketaatannya kepada Allah akibat kesibukan dengan mereka, munculnya sikap kikir akibat kecintaan tersebut. Fitnah anak istri dapat juga berupa melalaikan hak-hak anak dan istri seperti mendidik mereka, begitu juga terkait dengan fitnah tetangga. Dan fitnah ini sebagaimana disebutkan dalam hadits terhapus dengan ibadah shalat, puasa dan sedekah. Fitnah ini banyak disebutkan dalam Al-Qur’an dan hadits, di antaranya:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar” (QS at-Taghâbun, 64: 15).
Rasulullah s.a.w. bersabda:
مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنْ النِّسَاءِ
”Tidaklah aku tinggalkan fitnah yang lebih besar bagi kaum lelaki melebihi fitnah wanita” (HR Bukhari dan Muslim dari Usamah bin Zaid).
Dikatakan oleh ulama bahwa fitnah anak ada satu dan fitnah wanita ada dua. Fitnah wanita ada dua yaitu, pertama; wanita menyuruh suaminya untuk memutus hubungan silaturahim pada ibu dan saudara-saudara suaminya. Kedua; menyuruh suaminya untuk mencari harta yang halal atau haram. Sedangkan fitnah anak hanya satu yaitu membuat bapaknya mencari harta yang halal atau haram.
Dan fitnah lain yang disebut Hudzaifah adalah fitnah yang besar seperti gelombang lautan yang dapat menghanyutkan siapa saja yang ada di lautan kehidupan. Dalam hadits lain fitnah ini dapat menyebabkan seorang yang paginya muslim sorenya menjadi kafir, atau sorenya muslim, paginya menjadi kafir, mereka menjual agama dengan harta yang sedikit.
Di antara fitnah yang sangat besar adalah fitnah yang muncul dari para pemuka agama, alim ulama, kyai dan para da’i, jika mereka sudah terkena fitnah dunia, maka mereka menjual agamanya dengan harta dunia, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal. Ulama seperti ini dalam terminologi Islam disebut Ulama Suu (ulama jahat). Ciri khas mereka yang utama adalah lebih mencintai dan mengutamakan dunia. Akibatnya mereka tidak dapat berkata benar dalam mengeluarkan pernyataan dan fatwanya, karena hukum Allah senantiasa bertentangan dan bertolak belakang dengan syahwat manusia dan kecintaan mereka terhadap dunia, seperti kecintaan pada harta, kekuasaan, wanita dll. Rasulullah s.a.w. bersabda:
أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ
”Orang yang paling keras azabnya di hari kiamat adalah ‘alim, yang Allah tidak memberi manfaat pada ilmunya” (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi dari Abu Hurairah).
Sementara itu, Umar bin al-Khaththab r.a. berkomentar:”Yang paling aku takuti pada umat ini adalah orang jahat yang pandai berkata (ilmunya tidak sampai pada hatinya)”. Sedang Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:” Yang paling menjengkelkanku adalah dua orang, orang berilmu tapi jahat, orang bodoh tapi rajin ibadah. Yang pertama membuat jauh manusia karena kejahatannya, dan yang kedua menipu manusia karena ibadahnya.”
Ulama Sû (Jahat) akan senantiasa melakukan bid’ah untuk membenarkan kejahatannya. Maka terkumpulah pada mereka sifat buruk, mengikuti hawa nafsu yang mematikan mata hatinya, sehingga tidak dapat membedakan antara yang hak dan batil, bahkan memutarbalikkan antara yang hak dengan batil, sehingga melihat yang hak itu batil dan yang batil itu hak. Demikianlah kejahatan ulama jika sudah lebih mencintai dunia, syahwat dan hawa nafsu dari akhirat. Sebagaimana disebutkan dalam QS al-A’râf, 7: 175,176.
Macam-Macam Fitnah
Sebagaimana uraian di atas, maka secara umum fitnah terbagi menjadi dua, yaitu fitnah kebaikan dan fitnah keburukan. Allah SWT berfirman:
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS al-Anbiyâ’, 21: 35).
Fitnah kebaikan biasa disebut juga dengan fitnah dunia dan bermuara pada tiga hal yaitu harta, tahta dan wanita. Nabi s.a.w. bersabda:
إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ
”Sesungguhnya dunia itu manis dan lezat, dan sesungguhnya Allah menitipkannya padamu, kemudian melihat bagaimana kamu menggunakannya. Maka hati-hatilah terhadap dunia dan hati-hatilah terhadap wanita, karena fitnah pertama yang menimpa bani Israil disebabkan wanita” (HR Muslim dari Abu Sa’id al-Khudriy)
Harta dengan segala macamnya pada dasarnya adalah kenikmatan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Dan manusia harus menjadikannya sebagai sarana ibadah dalam hidupnya. Manusia yang mestinya menjadikan harta sebagai sarana tetapi mereka menjadikannya tujuan hidup bahkan banyak yang menghambakan hidupnya pada harta. Sehingga celakalah mereka, harta berubah menjadi fitnah dan bencana yang merugikan dirinya di dunia maupun akhirat.
Dan bagian fitnah yang harus diwaspadai para da’i dan pemimpin umat terkait dengan kebaikan adalah popularitas, sanjungan, pujian, penampilan, kecantikan, pengikut yang banyak, kemenangan dan sejenisnya. Imam Ahmad bin Hambal setelah terbebas dan penyiksaan yang berat dan dikeluarkan dari penjara, beliau mendapatkan simpati dan sambutan yang luar biasa dari pengikutnya. Mereka berdatangan untuk belajar, bertanya dan berguru pada Imam Ahmad. Melihat sambutan yang luar biasa dari pengikutnya, imam Ahmad menangis dan sangat khawatir kalau ini adalah istidrâj (fitnah yang sengaja dibiarkan oleh Allah untuk dinikmati) yang akan menjatuhkan beliau dari sikap istiqamah.
Sedangkan fitnah keburukan, seperti siksaan sampai ke tingkat pembunuhan, pengusiran, pemenjaraan, pemboikotan, kemiskinan, penyakit dll. Demikianlah fitnah terjadi silih berganti yang terjadi pada para nabi dan orang-orang beriman,
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُواْ الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْاْ مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاء وَالضَّرَّاء وَزُلْزِلُواْ حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُواْ مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللَّهِ أَلا إِنَّ نَصْرَ اللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat” (QS al-Baqarah, 2: 214)
Dalam konteks pemikiran dan gerakan, muncul beragam fitnah dan syubhat di bidang gerakan pemikiran sesat dan bid’ah yang menjamur di tengah masyarakat muslim, seperti JIL (Jaringan Islam Liberal), Ahmadiyah, Baha’iyah, LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia), Isa Bugis, Syiah dll. Fitnah ini muncul karena lemahnya umat Islam terhadap ajaran Islam. Dan jatuhlah mereka pada pemahaman yang salah dan menyimpang terhadap Islam. Tingkat penyimpangan gerakan pemikiran berbeda satu sama lain, ada yang sudah sesat dan keluar dari ajaran Islam, seperti Ahmadiyah, tetapi ada juga yang masih dapat diajak dialog tentang keislaman.
Dan fitnah yang terbesar dan terberat yang dihadapi oleh orang-orang beriman adalah fitnah menyebarnya kemusyrikan, kekafiran, kemungkaran, perselisihan dan perang antara sesama orang beriman. Fitnah yang pertama muncul setelah wafatnya Rasul s.a.w., menyebarnya kemurtadan dan orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Dan Abu bakar As-Siddiq berhasil memeranginya. Fitnah pembunuhan terhadap Khulafaur Rasyidin, Umar, Utsman dan Ali semoga Allah meridhai semuanya. Fitnah antara imam Ali RA dengan Siti Aisyah RA dalam perang Jamal, antara Ali RA dengan Muawiyah RA dalam perang Shiffin. Dan para ulama menyebutnya dengan istilah Fitnah Qubra.
Sikap Para Da’i terhadap Fitnah
Segala macam fitnah harus disikapi dengan bijak oleh para da’i sesuai dengan bentuk dan kadar fitnahnya. Ketika para da’i berhasil mengatasi fitnah yang terjadi di dunia, maka dia akan sukses dan mendapatkan ganjaran yang besar dari sisi Allah. Sikap pertama yang harus dilakukan oleh para da’i untuk menghadapi fitnah adalah hati-hati dan waspada (hadzr). Setiap da’i apapun yang terjadi, baik dan buruknya, senantiasa dalam kondisi diuji. Kemudian untuk menyikapi segala macam fitnah keburukan para da’i harus bersabar, bersabar tidak terlibat dalam keburukan dan bersabar atas segala musibah yang buruk. Dan menyikapi segala bentuk kemudahan para da’i harus bersyukur.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
«عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ».
”Sungguh menakjubkan urusan orang beriman, segala urusannya baik dan itu tidak terjadi kecuali orang beriman. Jika diuji kemudahan, dia bersyukur maka itu baik untuk orang beriman. Dan jika diuji kesusahan maka dia bersabar, dan itu baik untuk orang beriman” (HR Muslim dari Shuhaib)
Selanjutnya dalam menyikapi berbagai macam huru hara, perselisihan dan fitnah antara sesama muslim, maka sikap para da’i harus tetap komitmen pada jamaah Islam dan tetap taat pada pemimpin selagi tidak menyuruh pada kemungkaran dan kekafiran.
Fitnah terkait dengan kebatilan dan pemikiran yang sesat harus dihadapi dengan dakwah dan argumentasi yang kuat sehingga terlihat jelas antara kebenaran dan kebatilan. Ulama dan para da’i harus menjelaskan kepada umat antara yang hak dengan yang batil agar mereka tidak menjadi bingung dan tidak tersesat.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
«أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ حَقٍّ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ».
“Sebaik-baiknya jihad adalah perkataan yang benar pada penguasa yang lalim” (HR Ahmad dari Thariq bin Syihab).
Pada masa kekhalifahan imam Ali RA. Banyak kaum yang keluar dari jamaahnya dan disebut kelompok Khawarij. Lalu imam Ali RA. Mengirim Ibnu Abbas RA kepada mereka untuk berdialog seputar agama dan pemahaman Islam, maka banyak sekali di antara mereka yang sadar dan kembali pada ajaran yang benar. Begitu juga terhadap kelompok yang mengkultuskan dirinya dari kalangan Syiah, maka imam Ali RA senantiasa mengarahkan pada pemahaman yang benar dan menolak segala macam pengkultusan.
Sedangkan untuk menyikapi fitnah kekafiran dan kemusyrikan, maka umat Islam harus berjihad melawannya. Allah SWT berfirman:
وَقَاتِلُوهُمْ حَتَّى لاَ تَكُونَ فِتْنَةٌ وَيَكُونَ الدِّينُ كُلُّهُ لِلّه فَإِنِ انتَهَوْاْ فَإِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
”Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan” (QS al-Anfâl, 8: 39).
Seluruh bentuk fitnah harus dilawan dengan startegi yang tepat oleh umat Islam, sehingga Islam (baca: umat Islam) menjadi Syuhadâ’ ‘Alâ an-Nâs (‘yang memimpin’) di muka bumi ini.
Utamakan kelembutan
Maraknya aksi kekerasan belakangan ini mengundang keprihatinan kita bersama. Hampir tiap hari kita disuguhi berbagai kabar tindak kekerasan, baik itu berbentuk penyerangan, pengeroyokan, tawuran, maupun tindakan anarkistis lainnya.
Pelakunya pun cukup beragam dilihat dari usia dan jabatannya. Banyak orang pun bertanya, ada apa dengan karakter masyarakat kita ini. Bukankah dulu kita berbangga karena dikenal bangsa lain sebagai bangsa yang santun, lembut, dan ramah? Lantas, ke mana semua sifat mulia itu sekarang ini?
Al-Quran sebagai pedoman hidup kita, mengajarkan bagaimana menghadapi persoalan. Sebagaimana firman Allah:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka, disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”[QS Âli ‘Imrân, 3: 159].
Lewat ayat ini Allah mengingatkan kita agar mengedepankan sikap lemah lembut dan menjauhi kekasaran atau kekerasan seperti tecermin dari sikap yang dimiliki (oleh) Rasulullah s.a.w.. Kita juga diajarkan untuk suka memaafkan kesalahan orang lain sekaligus memintakan ampun atas dosa dan kesalahannya.
Dan, jangan lupa untuk mengedepankan sikap musyawarah, diskusi, dan dialog dengan santun menghadapi berbagai persoalan, bukan demonstrasi anarkistis, teror, dan menebar ancaman. Selanjutnya, kita diminta bertawakal setelah membulatkan tekad karena Allah menyukai orang-orang yang bertawakal.
Kita juga perlu meneladani bagaimana Nabi kita membalas perlakuan tidak menyenangkan dari orang lain.
عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، زَوْجَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ دَخَلَ رَهْطٌ مِنَ الْيَهُودِ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا السَّامُ عَلَيْكُمْ قَالَتْ عَائِشَةُ فَفَهِمْتُهَا فَقُلْتُ وَعَلَيْكُمُ السَّامُ وَاللَّعْنَةُ قَالَتْ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَهْلاً يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الرِّفْقَ فِي الأَمْرِ كُلِّهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ وَلَمْ تَسْمَعْ مَا قَالُوا قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: “قَدْ قُلْتُ وَعَلَيْكُمْ”.
“Dari ‘Urwah bin Zubair bahwa ‘Aisyah r.a., isteri Nabi s.a.w., berkata, bahwa sekelompok orang Yahudi datang menemui Rasulullah s.a.w., mereka lalu berkata: “Assâmu ‘alaikum (semoga kecelakaan atasmu)”. ‘Aisyah berkata: “Saya memahaminya”, maka saya pun menjawab: “Wa’alaikum as-sâm wa al-la’nah (semoga kecelakaan dan laknat tertimpa atas kalian).” ‘Aisyah r.a. berkata, lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tenanglah wahai ‘Aisyah, sesungguhnya Allah mencintai sikap lemah lembut pada setiap perkara”. Saya berkata: “Wahai Rasulullah, apakah engkau tidak mendengar apa yang telah mereka katakan?’” Rasulullah s.a.w. pun menjawab: ‘Saya telah menjawab: “’Wa’alaikum (dan semoga atas kalian juga).” (HR al-Bukhari)
Perhatikanlah, bagaimana Nabi kita, walaupun didoakan dengan kejelekan, dan istrinya – ‘Aisyah — tidak rela untuk menerima perlakuan seperti itu, beliau tetap menasihati isterinya agar tetap menjaga kelembutan hati, tidak terpancing emosi, serta menghindari kekerasan (sikap kasar) dan pembalasan yang berlebihan.
Nabi kita juga mengajarkan bagaimana menghadapi ‘kejahilan’ yang dilakukan seorang Badui yang mengencingi Masjid Nabi, seperti termaktub dalam kitab shahih Bukhari, dari Anas bin Malik r.a.:
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأَى أَعْرَابِيًّا يَبُولُ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ دَعُوهُ حَتَّى إِذَا فَرَغَ دَعَا بِمَاءٍ فَصَبَّهُ عَلَيْهِ
“Bahwa Nabi s.a.w. melihat seorang Arab Badui kencing di masjid, maka Rasulullah bersabda, “Biarkanlah [dia kencing sampai selesai].” Kemudian, setelah selesai, beliau meminta diambilkan air, lalu beliau menyiramnya.”
Belajar dari peristiwa tersebut, marilah kita kedepankan sikap lemah lembut, ramah, santun, dan sabar dalam menyelesaikan setiap permasalahan. Bukan dengan [cara] kekerasan dan pemaksaan kehendak.
Adap bersembang
.Sesungguhnya Islam agama yang indah. Setiap perkara mempunyai adab dan aturannya yang tersendiri. Semuanya diajarkan Nabi SAW sehinggalah sekecil-kecil perkara seperti masuk dan keluar tandas.
Pernah terjadi beberapa orang Musyrikin mengejek Salman al-Farisyi r.a., kata mereka,
"Nabi kamu mengajarkan semua benda sehingga perkara berkaitan istinjak. Kata Salman, "Memang benar! Nabi kami menegah daripada membuang air besar atau kecil dalam keadaan menghadap kiblat, beristinjak menggunakan tangan kanan, beristinjak kurang daripada tiga biji batu." (Hadis Riwayat Muslim)
Antara adab yang selalu dipandang ringan oleh umat Islam adalah adab bersembang. Apakah perbualan atau cara kita bersembang setiap hari menepati tuntutan Islam?
1. Suara yang rendah dan lembut.
Menurut Syeikh Abdul Fatah Abu Ghuddah, meninggikan suara terhadap seseorang itu menunjukkan kurangnya hormat kita kepada mereka. Seeloknya kita bercakap dengan kadar yang sederhana, sebagaimana yang kita inginkan apabila mendengar daripada seseorang.
Adab ini perlu diamalkan sama ada ketika bersama sahabat mahupun musuh, orang yang dikenali mahupun tidak, orang kecil mahupun dewasa. Lebih- lebih lagi ketika bersama kedua-dua orang tua dan orang yang setaraf dengan mereka.
Menurut Abdullah bin Zubair r.a., selepas turunnya ayat ke-2 surah al-Hujurat iaitu "Wahai orang-orang yang beriman, jangan kamu meninggikan suara kamu melebihi suara Nabi". Sayidina Umar r.a. terus berubah sikapnya. Sekiranya bercakap dengan Nabi, dia akan bercakap seperti orang berbisik-bisik sehingga terpaksa disuruh ulang beberapa kali kerana tidak dapat difahami .
Imam Zahabi menyebut, "Jikalau orang tidak mengenali siapa Muhammad bin Sirin (ulama Tabi'in), mereka akan menyangka dia seorang yang sakit kerana terlalu rendah suaranya apabila bercakap dengan ibunya." Lihatlah, betapa beradabnya golongan salaf dalam berkata-kata.2. Tidak menunjuk pandai.
Antara adab bersembang juga, kita tidak memalukan sahabat kita dengan menzahirkan kepada mereka apa yang kita ketahui sedangkan mereka tidak memahaminya. Sabda nabi SAW,
"Berbicaralah kepada manusia menurut kadar kemampuan akal mereka."
(Hadis Riwayat Muslim)
Contohnya jikalau kita seorang pakar ekonomi dan berhadapan dengan seorang petani kampung, elakkan bercakap tentang kerja kita yang jauh di luar bidang mereka serta sukar difahami dengan mudah. Sebaik-baiknya, tunjukkanlah perhatian kepada mereka dan lebihkan mendengar daripada berkata-kata.
Seorang Tabi'in yang terkenal iaitu Imam Ata' bin Abi Rabah berkata, "Seorang pemuda menceritakan kepadaku sebuah kisah. Aku mendengarnya dengan teliti seolah-olah aku tidak pernah mendengarnya sebelum ini. Sebenarnya aku telah mendengar kisahnya itu sebelum dia dilahirkan lagi."
Khalid bin Safwan berkata, "Jikalau seseorang bercerita dan aku telah mendengarnya sebelum ini, atau perkara itu telah kuketahui, aku tidak akan menyampuknya. Aku bimbang dia akan menyedari yang aku telah mengetahuinya."
Begitulah cara ulama-ulama menjaga pergaulan mereka. Mereka tidak meringan-ringankan kata-kata seseorang walaupun perkara tersebut sudah diketahui.
3. Biarkan mereka menghabiskan ucapan.
Sekiranya kita musykil tentang sesuatu yang diperkatakan, hendaklah bersabar sehingga seseorang menghabiskan ucapannya. Kemudian, soallah dengan adab dan berhemah. Jangan memotong di tengah-tengah percakapan. Ia akan menghilangkan adab serta menimbulkan rasa tidak senang orang yang sedang bercakap. Melainkan ketika dalam kelas pengajian, kita boleh bertanya dan berbincang sekiranya guru mengizinkan.
Menurut Ibrahim bin al-Junaid, "Belajarlah cara mendengar yang baik sepertimana kamu belajar cara bercakap yang baik. Antara ciri pendengar yang baik juga adalah membiarkan seseorang menghabiskan kata-katanya, bercakap menghadap tubuhnya dan bertentangan wajahnya serta tidak menyampuk sekiranya dia membicarakan sesuatu yang sudah kamu ketahui."Nabi SAW apabila diseru seseorang, Baginda tidak sekadar memalingkan muka bahkan menghadapkan seluruh tubuhnya kepada orang tersebut. Inilah bukti keindahan pekerti Rasulullah SAW.
Sama-samalah kita mengamalkan adab yang indah ini. Walaupun nampak ringan dan kecil, pasti ada kelebihan pada setiap amalan yang dianjurkan ulama-ulama Islam. Kata pepatah Arab, "Jangan kamu memandang ringan benda yang kecil, sesungguhnya gunung itu terhasil daripada debu-debu yang halus."
Rujukan: Kitab Min Adabil Islam, Syeikh Abdul Fatah Abu Ghuddah
Ucapkan la insyaallah
UCAPKANLAH "INSYAALLAH"
Berkali-kali saya dengar (banyak) orang mengucapkan kalimat insyâallâh, dan selanjutnya mereka merasa tak terbebani dengan ucapan itu, seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa. “Sekarang berjanji, besok pun diingkari”. Kenapa hal itu bisa terjadi?
Memang, banyak orang di sekitar kita yang sering mengucapkan kata insyâallâhtanpa menghayati maknanya. Alih-alih menghayati, bisa jadi mereka ‘tak benar-benar mengerti’ makna kata insyâallâh itu. Lalu, pertanyaan kita yang kita jawab (selanjutnya) adalah: “Apa makna esensial dari kata yang terlalu sering kita dengar itu?
sekarang perhatikan makna firman Allah dalam QS al-Kahfi, [18]: 23-24:
وَلا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَلِكَ غَدًا (٢٣) إِلاَّ أَن يَشَاء اللَّهُ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَى أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لأَقْرَبَ مِنْ هَذَا رَشَدًا (٢٤)
“Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: “Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): “insyâallâh“. Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: “Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya daripada (hal) ini”.
Menurut salah satu riwayat, berkaitan dengan sabab an-nuzûl ayat di atas, ada beberapa orang Quraisy yang bertanya kepada Nabi Muhammad s.a.w. tentangrûh, kisah ashhâbul kahfi (penghuni gua) dan kisah Dzulqarnain. Berawal dari pertanyaan itu beliau pun menjawab: “Datanglah besok pagi kepadaku agar aku ceritakan (untuk menjawab pertanyaan itu)”. Dan beliau sama sekali tidak mengucapkan kalimat insyâallâh (jika Allah menghendaki). Ternyata, sampai esok harinya wahyu (yang diharapkan datang untuk menjawab pertanyaaan itu) terlambat datang untuk menceritakan (menjawab) hal-hal (perihal pertanyaan) tersebut, dan Nabi s.a.w. pun (karena belum turunnya wahyu dari Allah) tidak mampu menjawabnya. Berkaitan dengan hal itu, maka turunlah QS al-Kahfi, [18]: 23-24, sebagai pelajaran kepada Nabi Muhammad s.a.w.. Dalam hal ini Allah mengingatkan Nabi s.a.w. (yang telah) lupa menyebut kalimat insyâallâh ketika berjanji, dan beliau pun menyadari kekhilafannya.
Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa perkataan Nabi s.a.w. di atas ‘hendaklah’ disertai dengan kata-kata “ insyâallâh” yang artinya “jika Allah menghendaki atau mengizinkan”. Sebab kemungkinan seseorang akan meninggal dunia sebelum hari besok itu datang dan barangkali ada suatu halangan, sehingga dia tidak dapat mengerjakan apa yang diucapkannya itu. Maka bilamana dia menyertakan dengan kata “ insyâallâh“, tentulah dia tidak dipandang sebagai pendusta dalam janjinya itu. Sekiranya seseorang terlupa mengucapkan kata-katainsyâallâh dalam janjinya itu, hendaklah dia mengucapkan kalimat itu sewaktu dia teringat kapan saja. Sebagai contoh pernah Rasul s.a.w. mengucapkan katainsyâallâh, setelah dia teringat. Beliau mengucapkan:
« وَاللَّهِ لأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا وَاللَّهِ لأَغْزُوَنَّ قُرَيْشًا ». ثُمَّ سَكَتَ سَاعَةً ثُمَّ قَالَ :« إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
“Demi Allah aku pasti akan memerangi orang-orang Quraisy, kemudian beliau diam sesaat, lalu mengucapkan (kata): “insyâallâh“. (HR al-Baihaqi dari Abdullah bin Abbas)
Sesudah Allah memberikan — kepada Nabi s.a.w. — tuntunan tentang adab terhadap Allah ketika berjanji, atau berniat untuk melakukan suatu pekerjaan yang akan datang, maka kemudian Allah memerintahkan kepada rasul-Nya (Muhammad s.a.w.) supaya mengharapkan dengan sangat kepada-Nya, dengan harapan Allah berkenan untuk memberikan petunjuk kepada beliau ke jalan yang lebih dekat kepada kebaikan dan lebih kuat untuk dijadikan alasan bagi kebenaran agama. Allah telah memenuhi harapan Nabi s.a.w. tersebut dengan menurunkan cerita Nabi-nabi beserta umat mereka masing-masing pada zaman-zaman yang terkait dengan keberadaan mereka. Dengan kisah para nabi dan umatnya itu, umat Islam memeroleh pelajaran yang sangat bermanfaat bagi kehidupan mereka untuk, baik untuk kehidupan dunia dan akhirat. (Al-Qurthubi,al-Jâmi Li Ahkâm al-Qurân, juz X, hal. 385)
Untuk menjawab pertanyaan mengenai makna (esensial) kalimat insyâallâh, para ulama menjelaskan, bahwa sesuatu yang menyangkut masa yang akan datang, minimal mencakup lima unsur: (1) pelaku (subjek); (2) yang diperlakukan (objek); (3) waktu dan tempat kejadian; (4) sebab- musabab; (5) kekuatan dan kemampuan yang diperlukan untuk melaksanakannya.
Oleh karena itu, misalnya ketika seseorang berkata: “Besok saya akan pergi ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah X”, sebenarnya orang tersebut tidak memiliki jaminan apa pun bahwa ia akan tetap bisa hidup sampai besok dan berkemampuan untuk datang ke tempat Mr. X untuk membicarakan masalah yang dijanjikannya. Begitu pula Mr. X yang akan ditemui olehnya, juga tak memiliki jaminan yang sama untuk bisa bertemu denganya di tempat dan waktu yang dijanjikan. Kalau pun ‘ia’ pada waktu yang sudah ditentukan ‘bisa pergi’, mungkin waktunya tidak setepat yang dijanjikan, atau tempatnya pun bisa berubah; atau mungkin saja pada waktu dan tempat yang telah dijanjikan, mereka berdua itu tidak berkemampuan untuk melaksanakan niatnya, atau bahkan juga bisa berubah niat untuk melaksanakannya pada saat dan tempat yang berbeda.
Kesimpulan pentingnya: “siapa pun sama sekali tidak memiliki kekuasaan penuh untuk menentukan ‘kelima unsur’ tersebut di atas secara mandiri, tanpa bergantung pada siapa pun. Semua itu akan terpulang dan dikembalikan kepada pengaturnya; Allah-lah yang Maha Kuasa untuk mengatur semua persoalan, termasuk sesuatu yang kita inginkan. Manusia – sekuat apa pun — harus menuruti kehendak-Nya. Sehingga ucapan insyâallâh yang diucapkan oleh setiap orang, bermakna: “Jika Allah menghendaki atau mengizinkan, semua rencana orang itu pasti akan terlaksanana. Sebaliknya, bila Allah tidak menghendaki atau mengizinkan, pasti rencana orang itu pun akan (selalu) gagal.
Selanjutnya, apa yang seharusnya kita sikapi ketika kita sudah benar-benar mantap mengucapkan kalimat insyâallâh? Kita – setelah mengucapkannya — harus berupaya optimal untuk melaksanakan apa yang kita niatkan dengan seluruh kemampuan kita, dengan dua sikap yang tak mungkin kita abaikan: “Sabar dan Tawakal”. Sabar, dalam pengertian: “bersikap pro-aktif untuk meraih sesuatu yang kita niatkan, (kita) kehendaki, (kita) inginkan, (kita) harapkan, (kita) cita-citakan tanpa ‘kenal’ putus asa”. Diiringi dengan sikap ‘tawakal’, dalam pengertian: “menyandarkan diri dalam semua usaha kita hanya kepada Allah semata”.
Jadi, substansi ucapan ‘insyâallâh’ yang telah kita ucapkan, bermakna: “kita telah benar-benar bertekad untuk melaksanakan apa yang kita niatkan dan (kita) janjikan seoptimal mungkin, dengan sebuah kesadaran (ilahiah), bahwa ‘hasil’ dari setiap upaya kita (benar-benar) hanya bergantung pada kehendak dan izin Allah semata. Tanpa kehendak dan izin Allah, apa pun yang sudah kita upayakan tidak akan pernah berhasil untuk kita capai, kapan pun dan di mana pun!
Sebagai seorang muslim, ketika sudah mengucapkan kalimat insyâallâh, harusberhimmah untuk beramal shalih seoptimal mungkin (yang berpotensi mengisi kekosongan hati kita), disertai dengan keinginan kuat untuk meninggalkan perbuatan ‘dosa’ (maksiat) sekecil apa pun (yang berpotensi mengotori hati kita), dan dengan (mantap) mengucapkan kalimat yang menunjukkan kekuatan niat kita: “insyâallâh”, agar kita bisa membangun sikap ikhlas dalam beramal shalih dan (sekaligus) membangun budaya “kerja keras dan cerdas” dengan pondasi iman dan taqwa kita sebagai seorang muslim.
Sekarang, dengan pengakuan keislaman kita, “bukan saatnya kita ‘bermimpi’. Buktikan bahwa kita bisa ‘beraksi’. Bersama Allah, insyâallâh, kita “boleh"
Kejujuran
Kejujuran terkesan mahal di negeri ini. Berbuat dan berkata dusta justeru terkesan menjadi suatu hal yang lumrah. Kedustaan seakan diumbar tanpa memiliki rasa bersalah dan takut akan dosa. Individu, masyarakat, dan bangsa yang sudah tidak mengutamakan kejujuran dipastikan akan dihampiri kehancuran. Kejujuran adalah dasar dari kehidupan keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Kejujuran adalah prasyarat utama pertumbuhan dan perkembangan masyarakat yang berlandaskan prinsip saling-percaya, kasih sayang, dan tolong-menolong. Kejujuran adalah inti dari akhlak yang merupakan salah satu tujuan dari diutusnya Rasulullah s.a.w. oleh Allah SWT.
Rasulullah s.a.w. bersabda:
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ وَالْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ ، وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ
“Bersikap jujurlah kamu sekalian, karena sesungguhnya kejujuran itu selalu akan mengantarkan dirimu kepada kebaikan, dan sesungguhnya kebaikan itu selalu akan mengantarkan dirimu ke surga. Dan jauhilah olehmu kebohongan, karena sesungguhnya kebohongan itu selalu akan mengantarkan dirimu kepada keburukan, dan sesungguhnya keburukan itu selalu akan mengantarkan dirimu ke neraka”. (HR Muslim dari Abdullah bin Mas’ud).
Makna penting dari hadis di atas adalah: ”Menjauhi kebohonganan adalah sebuah keharusan, karena kebohongan akan membawa kepada dosa dan dosa akan membawa ke neraka. Setiap muslim, hendaklah bersikap jujur karena kejujuran akan membawa pada kebajikan dan kebajikan akan membawa ke surga.”
Hakikat kejujuran ialah mengatakan sesuatu dengan ”apa adanya” (tanpa topeng kebohongan) di tempat (situasi) yang tidak ada sesuatu pun yang menjadi penyelamat, kecuali kedustaan. Secara psikologis, kejujuran akan mendatangkan ketenteraman jiwa. Sebaliknya, seseorang yang tidak jujur pasti akan selalu resah, dan selanjutnya akan tega untuk melakukan perbuatan ’jahat’ serta menutupi kebenaran.
Kedustaan dan ketidakjujuran akan selalu meresahkan masyarakat, yang pada gilirannnya akan mengancam stabilitas sosial. Ketidakjujuran selalu akan melahirkan pada ketidak-adilan, disebabkan orang yang tidak jujur akan tega menginjak-injak keadilan demi keuntungan material pribadi atau golongannya saja.
Pribadi yang jujur merupakan ruh kehidupan yang teramat fundamental karena setiap penyimpangan dari prinsip kejujuran pada hakikatnya akan berbenturan dengan suara hati nurani. Sebagai contoh, para penyelenggara negara pada setiap aktivitas dalam rangka melayani masyarakat tentunya tidak akan pernah menanggalkan prinsip kejujuran.
Kejujuran juga akan melahirkan penghargaan terhadap hak-hak orang lain. Sebab, kejujuran sebagaimana yang telah kita uraikan di atas, juga akan menumbuhkembangkan kecintaan terhadap kebenaran, keadilan, dan kedisiplinan. Namun, kejujuran tidak akan datang begitu saja, tetapi harus diperjuangkan dengan sabar dan sungguh-sungguh. Ada seorang ulama yang menegaskan bahwa ada beberapa faktor yang dapat membantu kita dalam mencoba meraih kejujuran:
Pertama, akal yang wajib memandang buruk kedustaan apalagi jika kedustaan itu sama sekali tidak mendatangkan kemanfaatan dan tidak mencegah bahaya.
Kedua, agama dan syariat yang memerintahkan untuk mengikuti kebenaran dan kejujuran serta memeringatkan bahaya kedustaan.
Ketiga, kedewasaan diri kita yang menjadi salah satu faktor pencegah kedustaan dan kekuatan pendorong menuju kebenaran.
Keempat, memeroleh kepercayaan dan penghargaan masyarakat.
Ada sebuah kata mutiara: ”Jadikanlah kebenaran (al-haq) sebagai tempat kembalimu (rujukan), kejujuran (ash-shidq) sebagai tempat pemberangkatanmu (pijakan), sebab kebenaran adalah penolong paling kuat dan kejujuran adalah pendamping utama”. Karena itu, setiap pribadi muslim sejati pasti akan terus membangun kejujuran pada dirinya dalam melakukan semua aktivitas.
Langgan:
Catatan (Atom)